Kamis, 17 Agustus 2017

REFLEKSI DAN PROYEKSI JEMBATAN EMAS KEMERDEKAAN RI





Gemerlap Dirgahayu Indonesia
Gebyar kemeriahan fitur dan ornamen bendera Indonesia terpampang menghiasi Gapura dan beberapa lorong tempat di penjuru wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ilustrasi ini menggambarkan penghormatan dari sebagian kecil rakyat negeri, yang dengan sadar tanpa paksaan, bahkan tanpa dukungan material, mereka mampu bergotong royong untuk menyambut peringatan hari Kemerdekaan Republik Indonesia dengan suka cita dan kemeriahan.
Tidak sebatas mempercantik artefak fisik dan pancangan bendera di setiap sudut jalan, masyarakat negeri ini juga merayakannya dengan aktivitas mental dan sosial melalui berbagai macam lomba untuk semua jenjang generasi. Anak-anak, tua-muda, kaya-miskin, laki-perempuan, semuanya membaur dalam satu semangat moril untuk berpartisipasi “senang-senang” berebut hadiah dan bingkisan ala kadarnya. Rakyat berhasil menghibur dirinya di sela-sela aktivitas rutin yang membelenggunya. Mereka bercanda, tertawa dan bergembira ria.  
Ekspresi positif ini tentu mengandung makna akan ketersediaan dan kesetiaan masyarakat terhadap negara yang ditinggalinya ini. Semangat dan daya korban mereka mampu memberikan ingatan memori bahwa segala sesuatu kejadian bisa diupayakan melalui kesadaran kolektif kebersamaan antara pejabat dan rakyat, dalam hal ini radius terkecil Rukun Warga dan Rukun Tetangga. Keberhasilan berhias dan memperindah “gapura” ini membuktikan bahwa “rakyat” tetap cinta tanah air, dengan segala rasa dan dilema atas apa yang telah diberikan Negara kepada masyarakat selama 72 tahun ini.
Gairah perayaan kemerdekaan tidak hanya dimiliki oleh rakyat biasa. Para pejabat dan petinggi negara, pada hari yang sama, juga melaksanakan tradisi atau ritual peringatan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Istana Negara. Prosesi dan protokoler peringatan kemerdekaan di Istana tentu saja berbeda dan lebih “sakral” dari pada masyarakat umumnya. Semua perwakilan Lembaga Tinggi Negara hadir menyaksikan detik-detik dan pembacaan Teks Proklamasi Indonesia, pengibaran dan penghormatan kepada bendera, serta menyanyikan Indonesia Raya, dan lain sebagainya. Bedanya lagi, semua biaya penyelenggaraan acara yang menghabiskan milyaran rupiah ini ditanggung oleh Negara, bukan inisiasi “saweran” atau “patungan” bersama-sama dari para pesertanya.

Kemerdekaan Sebagai Kelahiran
Hal pokok yang ingin disampaikan dalam tulisan ini bukanlah perihal kegiatan perayaan yang bersifat simbolis dan rutinitas tahunan ini. Adalah hal teramat penting untuk memaknai dan membaca semangat lagu yang mengingatkan akan fungsi proklamasi Indonesia. Lirik lagu tersebut berbunyi demikian, “Tujuh belas Agustus tahun empat lima, Itulah hari kemerdekaan kita, Hari merdeka nusa dan bangsa, Hari lahirnya bangsa Indonesia, Merdeka, Sekali merdeka tetap merdeka, Selama hayat masih di kandung badan, Kita tetap setia tetap sedia, Mempertahankan Indonesia, Kita tetap setia tetap sedia, Membela negara kita.” Lirik lagu ini mempunyai esensi fundamen sebagai alat untuk mengukur dan menilai segala situasi dan kondisi perjalanan Republik Indonesia.
Dalam lirik tersebut sangat jelas, bahwa 17 Agustus 1945 adalah hari kelahiran bangsa Indonesia. Bangsa ini memiliki ruang dan waktu kelahirannya, sama identik dengan bayi manusia yang lahir dari mulut rahim ibunya. Setiap bayi lahir tentu saja melalui fase-fase kehidupannya mulai dari kanak-kanak, remaja, dewasa, tua, pikun dan akhirnya meninggal dunia. Begitu juga dengan sebuah bangsa, dia pernah lahir kemudian mengalami masa-masa sebagaimana manusia menjalani hidup dan kehidupan sampai kepada keparipurnaan dan kematiannya.
Untuk melihat sampai dimana bangsa Indonesia ini eksis dan establish menjalani hidup dan kehidupannya tentu harus dilihat kemampuan dan kecakapannya dalam beradaptasi dan mengendalikan lingkungan kebangsaannya. Kemampuan seorang bayi akan berbeda dengan kemampuannya ketika masa remaja ataupun dewasa, begitu juga kemampuan optimalnya akan menurun ketika dirinya sudah memasuki usia senja. Aksi dan reaksi dari suatu bangsa dalam mengatasi permasalahan nasionalnya menentukan level dan derajat keberadaan dirinya, apakah negara itu dalam kondisi balita, dewasa, atau memasuki usia senja.
Pada hakikatnya, setiap kelahiran akan menyediakan ruang kebebasan bagi balita untuk berkembang sesuai dengan lingkungan dan ideologinya. Begitu juga sebuah bangsa yang berhasil mencapai kemerdekaan harusnya terbebas dari belenggu penjajahan dengan segala dimensi dan aspeknya. Kemerdekaan adalah jembatan emas yang akan mengantarkan suatu kumpulan individu, keluarga, komunitas, maupun postur lembaga negara untuk mencapai cita-citanya. Tanpa adanya “jembatan emas” atau “jalan penyeberangan”, maka himpunan manusia ini tidak akan bisa menyeberang ke suatu tempat yang menjadi tujuan hidupnya, bahkan bisa tenggelam dalam lautan samudera peradaban semesta.  

Refleksi Cita dengan Realita
Sehari setelah Proklamasi, bangsa Indonesia bersepakat mengikatkan dirinya pada cita-cita dan tujuan bersama sebagaimana dinyatakan dalam alenia keempat Undang-Undang Dasar 1945 berikut ini. “Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada : Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”
Cita-cita luhur bangsa Indonesia ini telah diupayakan dan diusahakan melalui berbagai macam bentuk Negara dan model kepemimpinan bangsa. Semenjak kelahirannya, bangsa ini sepakat menggunakan Negara Republik Indonesia sebagai bentuk negara untuk menjalankan fungsi pemerintahannya. Namun demikian, cita-cita membangun dan mempertahankan negara ini harus kandas pada tahun 1949 karena Agresi Militer I dan II oleh Belanda. Pada tanggal 27 Desember 1949 dideklarasikan Republik Indonesia Serikat disingkat RIS, (Republic of the United States of Indonesia; Verenigde Staten van Indonesiƫ) sebagai suatu negara federasi hasil kesepakatan tiga pihak dalam Konferensi Meja Bundar antara Republik Indonesia, Bijeenkomst voor Federaal Overleg (BFO), dan Belanda. Bentuk negara ini tidak berjalan lama, karena pada tanggal 17 Agustus 1950 Republik Indonesia Serikat dibubarkan dan diganti dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
NKRI berjalan dengan berbagai macam model pemerintahan dimulai dari Orde Lama, Orde Baru, dan Orde Reformasi hingga hari ini. Negara telah melakukan usaha untuk mewujudkan cita-cita menjadi realitas dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Banyak prestasi dan pencapaian besar diperoleh masing-masing Kepala Negara pada masanya masing-masing. Semua sudah, sedang dan akan terus berkarya melanjutkan kemerdekaan demi mewujudkan tujuan bernegara. Namun demikian, warga negara harus terus memonitor jalannya negara, jangan sampai salah arah dan melenceng dari tujuan pendiriannya.
Cara melihat apakah Negara ini masih berkomitmen dan konsisten dengan tujuannya atau tidak, bisa dilihat dari indikator dan instrumen pencapaian dari masing-masing tujuan negara dalam Pembukaan UUD 1945. Apakah negara ini melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia? Sudah memajukan kesejahteraan umum? Sudah mencerdaskan kehidupan bangsa? dan sudah ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial? Tentu saja untuk mengukur perwujudan cita-cita dengan realita hari ini harus menggunakan data dan statistik maupun kondisi sosial yang terjadi pada bangsa ini.
Sebagai suatu refleksi dan evaluasi, cita-cita negara ini harus dihadapkan dengan realitas sosial kemasyarakatan sehingga akan terlihat disparitas atau kesenjangan antara visi misi dengan kenyataannya. Dalam konteks keberhasilan tujuan Negara melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dapat dilihat dari beberapa kasus pelanggaran HAM di Indonesia, hegemoni kaum mayoritas atas minoritas, perang antar masa karena perselisihan ras dan golongan, maupun kasus lain yang menyebabkan hilangnya nyawa warga negara tanpa jaminan hukum. Tragedi-tragedi masa lalu juga menjadi ukuran sekunder untuk memastikan negara telah berhasil atau belum dalam mewujudkan tujuan ini.
Indikator keberhasilan Negara mewujudkan kesejahteraan umum dapat dievaluasi dari laporan Indeks Pembangunan Manusia Indonesia (Human Development Index) yang berada di peringkat 113 dari 188 negara, dimana terjadi penurunan dari tahun 2015 yang berperingkat dari 110. Terkait dengan mencerdaskan kehidupan bangsa, satu indikator global terkait pendidikan menempatkan Indonesia pada peringkat ke 64 dari 72 negara dalam melihat kemampuan membaca, sains, dan matematika pada anak yang berusia 15 tahun, sebagaimana hasil survei Programme International Student Assessment (PISA) yang dirilis terakhir tahun 2015.
Catatan lebih menarik lagi terkait usaha Negara dalam mewujudkan tujuannya ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, dimana realitas global Negara masih terombang-ambing oleh kepentingan antara Blok Barat dan Blok Timur. Indonesia berada dalam cengkeraman neo-imperialisme gaya baru, dengan indikator meroketnya hutang Negara kepada dunia Internasional. Secara tidak langsung, kondisi ini mempengaruhi daya kenetralan Negara dalam menetukan sikap non-blok gaya baru, dimana situasi Internasional hari ini dalam ujian bersama, terutama dengan munculnya gerakan radikalisme, separatisme, dan terorisme transnasional.
Gambaran situasi di atas menjadi cermin reflektif bagi segenap aparatur dan penyelengara negara baik lembaga legeslatif, eksekutif dan yudikatif. Para pengemban amanat inilah yang dituntut untuk selalu mengikatkan diri dalam berfikir, berkata dan bertindak berlandaskan konstitusi atau dasar negara Pancasila dan UUD 1945. Merekalah eksponen yang paling bertanggung jawab atas maju dan mundurnya atau eksis tidaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia pada masa sekarang dan yang akan datang. Rakyat hanyalah unsur kolektif yang berperan aktif mengikuti keteladanan dari para pimpinannya. Refleksi ini harus dijadikan proyeksi dan tantangan dalam menghadapi situasi percaturan internal dan eksternal kehidupan berbangsa dan bernegara.  

Proyeksi Konstitusi Menuju Kemerdekaan Sejati   
Sebagai eksponen dan komponen nahkoda kapal besar bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia, unsur Kepemimpinan Nasional sebagai pengambil kebijakan harus mampu melihat kualitas dirinya agar selalu aktif dan reaktif menghadapi permasalahan nasional, regional maupun global. Evaluasi hasil refleksi atas pencapaian dari berbagai indikator pertumbuhan dan perkembangan kehidupan bernegara ini harus menjadi dasar proyeksi untuk merumuskan langkah stategis dan teknis dalam rangka mewujudkan cita-cita negara dengan efektif dan efisien berlandaskan konstitusi.
Para pemimpin yang mendapat mandat dari rakyat (pilihan rakyat) seharusnya benar-benar mampu menyesuaikan diri dengan tagihan konstitusi sebagai dasar negara. Para pemimpin inilah yang menjadi lokomotif untuk memberikan contoh dan keteladanan cara hidup dan kehidupan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Lima dasar negara inilah yang harus menjadi “Jembatan Pikiran” dalam setiap menjalankan kekuasaannya.
Manusia Indonesia harus benar-benar beriman kepada Ketuhanan Yang Maha Esa. Mereka harus mengintegrasikan diri “manunggal” dengan prinsip, ajaran dan hukum utamanya yaitu kasih dan sayang. Berbuat baiklah kepada manusia sebagaimana Tuhan Yang Maha Esa telah berbuat baik kepadamu. Cintailah Allah segenap akal budimu dan cintailah manusia sebagaimana mencintai dirimu sendiri. Kesadaran ilahiah ini harus ada dalam setiap pemimpin dan warga negara, sehingga akan tercipta konektivitas hubungan manusia kepada-Nya, kepada sesama manusia maupun alam semesta. Dengan kekuatan spiritual universal ini, maka secara otomatis akan tercipta manusia yang adil dan beradab, bersatu, merakyat dan berkeadilan sosial.
Anti thesis-nya, jika manusia Indonesia salah dalam menerapkan prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa, maka dirinya akan menjadi manusia atheis yang lebih buas dari binatang. Dia tidak takut melawan hukum Tuhan seperti mencuri, berzina, membunuh, berdusta dan lain sebagainya. Oleh karenanya, jika ada pemimpin Negeri ini yang berani korupsi uang rakyat, itu artinya dia sedang berkhianat kepada-Nya. Tuhan YME melarang mencuri tetapi dirinya tetap korupsi, tertangkap tangan, bahkan beberapa mantan Menteri, Gubernur, Walikota, Bupati, Camat, Lurah telah menjadi terpidana kasus korupsi. Bangsa ini harus berhati-hati karena telah menjadikan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai dasar negara, karena jika melanggar prinsip dan ajaran-Nya, maka bangsa ini akan mendapat kutuk dari Dia.
Oleh karena itu, bangsa Indonesia harus menjadi hamba yang tulus dalam mencintai Tuhan YME dengan selalu tunduk patuh melaksanakan seluruh kehendak, prinsip dan hukum-Nya sehingga bisa mendapatkan berkat dari-Nya. Cita-cita Negara pasti terwujud jikalau segenap eksponen dan komponen Negeri ini konsisten menjalankan Konstitusi Negara yang berlandaskan Ketuhanan Yang Maha Esa. Namun sebaliknya, jika para pemimpin tidak mau dan mampu mengamalkannya, maka “jembatan emas” akan rubuh dan gapura kemerdekaan akan selalu tertutup, sehingga masyarakat hanya akan berada di depan pintu gerbang tanpa bisa memasuki dan menikmatinya. Alhasil cita-cita atau tujuan bernegara hanya akan menjadi ilusi khayalan tidak termanifestasi dalam alam kenyataan. 
Bahkan jikalau para petinggi negeri ini terus menerus mencederai amanat konstitusi dan melampui batas nurani Ilahi, maka tidak menutup kemungkinan Tuhan Yang Maha Esa akan segera menggulirkan ruang dan batas waktu kelahiran kepada kematiannya, karena setiap yang lahir pasti ajal, sehingga semboyan “NKRI Harga Mati” bisa saja benar-benar terjadi, tinggal sejarah dan saling membubarkan diri. Dia akan mengganti bangsa ini dengan kelahiran bangsa baru yang lebih setia dan tidak mempersekutukan-Nya. Mari belajar dari bangsa-bangsa besar yang telah bubar manakala tidak mampu mewujudkan harapan atau cita-cita tertinggi dari perjanjian berdirinya suatu negeri. Dirgahayu Indonesia, selamat refleksi dan berproyeksi, menuju kemerdekaan sejati yang paling hakiki.         

Minggu, 30 Juli 2017

Makan dan Minum Kita Mencipta Masa Depan Kita





Dimensi Raga dan Jiwa Manusia
Kita adalah kata ganti ketiga jamak dari himpunan manusia. Kita, kami, kamu dan aku adalah manusia yang hidup dalam suatu dimensi kehidupan yang sama. Manusia adalah makhluk ciptaan Sang Maha Kuasa yang memiliki dua sisi utama, yakni raga dan jiwa. Kita lahir ke permukaan bumi dalam balutan raga fisik darah dan daging yang sempurna. Dia menganugerahkan intrumen terlengkap pada diri manusia dari panca indera sampai akal pikiran yang menjadi pembeda dari makhluk lainnya. Tidak sebatas itu, Dia juga memberikan dimensi kehidupan jiwa pada setiap insan manusia.  
            Manusia lahir, tumbuh, berkembang, secara natural berdasarkan kebutuhan biologisnya. Raga manusia selalu bertambah besar dan panjang mengikuti perjalanan waktu setiap masa hidupnya. Berat dan tinggi badan manusia tumbuh berkembang karena suplay makanan fisik di dalam tubuhnya. Selain dari tumbuhnya badan atau raga, setiap manusia juga akan mengalami perkembangan cara berfikir di dalam jiwa sehingga menjadi manusia yang berpengetahuan dan berpengalaman. Endapan ilmu di dalam jiwa ditentukan oleh daya serap akal pikirannya terhadap makanan otak yang diperoleh dirinya. Raga dan jiwa sama-sama menagih kebutuhannya untuk perkembangan keduanya. Tanpa itu, lahirnya manusia akan berakhir pada lubang kuburan yang akan menimbun dirinya.
            Untuk itu, pertumbuhan dan perkembangan jiwa dan raga harus berjalan simetris dan paralel. Raga manusia tumbuh bersamaan dengan makanan dan lingkungan yang membentuknya. Begitu juga dengan jiwa manusia, ia akan terbangun melalui aktivitas moral dan perilaku yang membimbing manusia dari kecil hingga dewasa. Konsekuensi logisnya, setiap insan manusia harus selalu memperhatikan makanan fisik untuk menjamin kelangsungan raganya dan mengupayakan pembelajaran keilmuan untuk menumbuh kembangkan jiwa di dalam dirinya.

Sinergi Fisik Material dan Mental Spiritual Manusia
Manusia bersifat fisik material karena diciptakan dari materi. Kelengkapan seluruh tubuhnya merupakan kombinasi tumbuh dan berkembangnya rumusan materi. Alhasil karena dirinya bersifat material, maka sudah pasti untuk menjamin kehidupannya membutuhkan sumber material. Sumber-sumber materi dapat diperoleh dari aktivitas makan dan minum seperti karbohidrat, protein, vitamin, air, dan sumber lainnya. Sumber materi makan fisik ini akan menjamin kehidupan manusia secara fisik. Oleh karenanya, tidak ada manusia yang bisa bertahan hidup tanpa makanan fisik material.
 Manusia adalah makhluk yang mempunyai dimensi mental spiritual. Kehidupan manusia tidak hanya sebatas pemenuhan kebutuhan yang sifatnya material. Banyak juga manusia mati bukan karena kelaparan atau kehausan, tetapi karena gejala mental spiritual yang tidak tumbuh berkembang atau stres berkepanjangan, sehingga memutuskan bunuh diri sebagai pilihan. Dengan kata lain, untuk bisa hidup secara normal membutuhkan asupan spiritual sebagai energinya. Makanan spiritual ini bersifat teoritis dan konsepsi yang bisa membangkitkan manusia guna mencapai spirit atau semangat untuk terus menjalankan hidup dan kehidupan. Itulah manusia, butuh makanan dan kelimuan agar selaras, serasi dan seimbang menjalani hidup zaman sekarang maupun masa depan.
Fisik material membutuhkan daya ungkit secara biologi dari makanan dan minuman yang dikonsumsinya. Fisik manusia ini akan menopang tumbuhnya perkembangan dimensi mental spiritual. Keduanya tidak bisa dipisahkan antara satu dengan lainnya. Perkembangan mental spiritual juga sangat ditentukan oleh eksis tidaknya fisik material seorang manusia. Pribadi-pribadi manusia yang berfisik material tangguh dan sehat mempunyai potensi yang besar untuk menciptakan manusia-manusia bermental spiritual yang tinggi. Walaupun demikian, itu belum menjadi jaminan jikalau unsur-unsur makanan dan minuman secara materi maupun spiritual tidak diatur dan dikendalikan dengan benar.  

Otak dan Usus Pengubah Energi Manusia
            Manusia menjalankan aktivitas fisik material dan mental spiritual menggunakan instrumen perangkat tubuhnya. Dua komponen vital manusia yang memiliki peranan vital dan strategis untuk keberlangsungan jiwa raga adalah otak dan usus manusia. Jiwa atau mental spritual membutuhkan asupan energi keilmuan yang diolah di dalam mekanisme otak atau akal pikiran. Sementara untuk raga dan fisik material membutuhkan kesempurnaan prosedur sistemik dalam pencernaan usus manusia guna menghasilkan energi dari makanan darah dan daging. Jika keduanya bermasalah, maka dapat dipastikan manusia akan tinggal menjadi sejarah. Jika salah satu yang bermasalah, misal tidak berjalannya fungsi pencernaan maka manusia akan mati dan menderita secara fisik. Lebih parah lagi jikalau yang eror adalah pikiran otak manusia, maka dirinya akan menjadi orang gila bahkan orang jahat yang merusak peradaban umat manusia.
            Manusia berfikir, berucap dan bertindak ditentukan oleh otak atau akal pikirannya. Seseorang dikatakan pintar atau bodoh tergantung dengan kapasitas memori otak dan optimalisasi rangkaian cara berfikirnya. Kemampuan berfikir sangat ditentukan oleh memori keilmuan yang ada di dalam arsip pikirannya. Jika manusia tidak pernah belajar atau “makan dan minum” tentang ilmu pengetahuan, maka di dalam otak tersebut tidak ada arsip tentangnya, sehingga manusia tidak bisa mengetahui apapun kalau ditanya tentangnya. Alhasil manusia tersebut dikatakan manusia bodoh karena tidak tahu apa-apa pada saat ditanya.
Itulah esensi manusia mati, walaupun dirinya hidup secara fisik tetapi mati secara ilmu pengetahuan atau mental spiritual. Otak yang tidak pernah diberi asupan pengetahuan akan menjadi otak yang tumpul, berkarat, dan tidak memiliki daya kecerdasan baik secara intelektual, emosional maupun spiritual. Untuk itu, agar menjadi manusia yang benar-benar hidup kuncinya adalah belajar dan belajar, membaca dan membaca, menulis dan menulis, ataupun aktivitas lainnya yang dapat menambah daya ingat pengetahuan dan pengalaman dalam diri pikiran manusia. Ingat, Tuhan YME meningkatkan derajat manusia satu dengan lainnya karena ilmu dan ketakwaannya. Berat jenis ilmu inilah yang membedakan antara Profesor dengan tukang becak, karena cara hidup dan makan minumnya mereka sangat berbeda. Itulah rumus dasar kecerdasan yang membedakan derajat manusia.
Selain dari otak, ada satu komponon tubuh manusia yang harus dijaga, dirawat dan diatur dengan bijaksana penggunannya, yakni usus manusia. Usus adalah mekanisme sistem pencernaan manusia yang sangat vital. Jika otak memproses keilmuan dalam pikiran, maka usus memproses makanan fisik di dalam sistem pencernaan. Usus besar, usus kecil, usus dua belas jari dan lainnya sangat mirip dengan cara kerja dendrit dan lapisan neurotransmiter dalam otak manusia. Keduanya sama-sama mengolah, mengubah dan mentransformasikan sumber energi menjadi energi yang mengidupkan. Olahan makanan yang diproses dari mulut, kerongkongan, lambung dan usus diproses sedemikian rupa sehingga menghasilkan enzim, kalori dan energi lainnya untuk membuat tubuh manusia tetap bisa bergerak, bernafas, dan hidup normal.
Untuk itu, pemilihan makanan sehat harus disesuikan dengan karakteristik kesehatan usus. Jika manusia makan sembarang makanan, maka akan berakibat menurunnya fungsi usus dan hilangnya optimalisasi penciptaan energi secara fisik. Makan dan minumlah sesuai porsi dan aturan, hindari hal-hal destruktif yang dapat merusak usus, serta biasakan menjaga kesehatan usus dengan terapi atau diet yang benar. Semua penyakit kebanyakan bersumber dari perut. Usus di dalam perut sangat rentan dan riskan jikalau tidak dijaga dengan makan dan minum yang sehat. Kesadaran dan komitmen menjaga makanan akan menjamin kesehatan masa depan. Acuh tak acuh terhadap minuman yang dialirkan ke dalam tubuh akan beresiko berkurangnya jumlah harapan hidup di masa depan.            

Dominasi Ilmu Melawan Hawa Nafsu Manusia
            Oleh karenanya, otak dan usus manusia harus dirawat dan dioptimalkan secara berkelanjutan. Otak berfungsi untuk membangun hierarki konsep keilmuan yang bermanfaat bagi kehidupan. Otak membutuhkan makanan yang bersifat nilai atau keilmuan dari suatu ilmu pengetahuan. Ilmu yang telah dikonsumsi oleh neuro-transmiter di dalam lapisan dendrit pikiran manusia akan tersimpan dalam memori dan menghasilkan daya gerak dan daya hidup yang besar bagi kehidupan. Jika ilmu yang direkam dan diinstal dalam pikiran adalah ilmu kebenaran universal, maka manusia akan menjadi makhluk kebenaran yang bermanfaat bagi alam semesta raya.
Namun demikian, jika di dalam diri manusia tidak diberikan makanan ilmu tetapi condong kepada konsumsi unsur-unsur nafsu, maka manusia akan menjadi makhluk yang buas dan merusakan peradaban. Manusia akan menjadi jelmaan hawa nafsu yang destruktif dan manipulatif serta orientasi fisik material. Dominasi ilmu atau nafsu di dalam pikiran manusia tergantung oleh kekuatan ilmu atau nafsu yang mengendalikannya. Oleh sebab itu, manusia harus selalu belajar dan mengingat ilmu agar bisa mengalahkan desakan dan jebakan hawa nafsu.
Terakhir, untuk menjadi manusia paripurna yang berilmu dan terbebas dari kendali hawa nafsu, maka setiap diri manusia harus benar-benar memanfaatkan dan mengoptomalkan anugerah-Nya yaitu otak dan usus di dalamnya. Makan dan minumlah ilmu kebenaran yang bersifat universal baik dalam dimensi spiritual, emosional maupun intelektual sehingga akan tercipta kualitas jiwa manusia yang berisme dan karakter Tuan Semesta Alam Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Tidak cukup disitu, setiap insan harus memperhatikan makanan dan minuman yang dikonsumsi oleh ususnya, sehingga tercetak raga manusia yang sehat, bugar dan tubah yang perkasa.
Perpaduan kualitas antara raga dan jiwa, fisik material dan mental spiritual, serta dominasi ilmu atas hawa nafsu, pasti akan menciptakan manusia-manusia unggul di masa depan yang akan menjadi wakil atau khalifah-Nya di muka bumi. Semua ini akan terjadi manakala setiap diri berkomitmen dan konsisten untuk memulai dari sekarang, dari yang terkecil, dan dari diri sendiri akan arti pentingnya “makan dan minum” secara sehat dan seimbang dengan pola-menu “makanan langit” maupun “makanan bumi” berdasarkan asas kebutuhan dan kesetimbangan. Makan dan minumlah sesuai aturan dan dosis yang telah ditetapkan sehingga dapat menjamin keselamatan di masa depan. Kita adalah apa yang kita makan, “We are what we eat, We are what we learn.”

Kamis, 27 Juli 2017

PETA JALAN KEBENARAN MENCAPAI TUJUAN KEHIDUPAN





Seluruh Makhluk Memiliki Tujuan Penciptaan
Setiap makhluk hidup terikat dengan tujuan kehidupannya. Tiada ciptaan di alam semesta tanpa mempunyai fungsi dan peranan dalam siklus hidup dan kehidupan yang berjalan. Dirinya ada karena keberadaan dari anggota makhluk lainnya yang saling tergantung dan terkoneksi dalam suatu tatanan universal di jagad raya. Rangkaian kebersamaan antar makhluk-makhluk ini berjalan secara kolektif dan sinergis pada lintasan yang benar menuju satu tujuan kehidupan, yakni kedamaian dan kesejahteraan alam semesta.

Tentu saja, satu diantara segala makhluk yang menjadi bagian dari alam, yaitu manusia juga terikat dan terkait dalam sinkronisasi orkestra perjalanan untuk mencapai tujuan penciptaannya. Manusia tidak bisa hidup bebas dengan berjalan secara radikal tanpa aturan yang benar, karena jika demikian tidak akan mencapai kedamaian dan kesejahteraan, melainkan suatu tatanan kehidupan yang bersifat permusuhan, perbudakan, peperangan yang berujung ketidakadilan dan kemiskinan, anti thesis dari tujuan manusia diciptakan.

Segala makhluk hidup pada alam sudah berjalan pada jalur orbit ketetapan yang diberikan sesuai tugas dan fungsinya masing-masing. Mereka bergerak sesuai dengan perintah dan aturan yang digariskan. Tidak ada hewan maupun tumbuhan yang menyimpang dari jalan kebenaran yang diundangkan atas dirinya. Makhluk telah tunduk dan patuh pada lintasan jalan pengabdian sehingga tercipta keselarasan, keseimbangan, keharmonisan dan keteraturan hidup dan kehidupan pada lingkungan ekosistem alam.

Manusia hendaknya mencontoh perilaku jalan hidup sebagaimana jalan hidup makhluk pada alam. Bedanya, manusia ini diberikan kebebasan dari Sang Pencipta alam untuk memilih jalan hidupnya. Manusia dibiarkan bebas memilih lintasan hidupnya, walaupun terikat dengan konsekuensi sebab akibat dari pilihan jalan hidupnya itu. Jalan hidup manusia hanya ada dua, yaitu Jalan Kebenaran menuju kedamaian-kesejahteraan dan Jalan Kesesatan yang mengajak kepada kebinasaan-kehancuran peradaban. Keduanya bersifat bioritmik, saling bergiliran dan eksis sesuai dengan ruang, masa dan waktu ketetapan-Nya.

Definisi Peta Perjalanan Menuju Tujuan
Ibarat orang berjalan, hal yang paling dasar untuk menjadi kesadaran adalah seseorang itu harus mengetahui jalan atau lintasan yang akan digunakan serta memahami benar alamat tujuan dari perjalanannya. Sebagai contoh, seorang yang berasal dari Magelang akan berjalan menuju tujuan perjalananya di Monas Jakarta. Hal pertama yang harus diketahui adalah rute perjalanan, sarana perjalanan, dan diskrispi situasi Monas yang menjadi motivasi perjalanannya. Jika seseorang tidak mengetahui jalan menuju Monas, maka sudah bisa dipastikan dirinya akan tersesat tidak sampai kepada tujuan, dirinya tidak bisa menikmati apa yang menjadi cita-citanya menuju Monas di Jakarta. Untuk itu dirinya membutuhkan peta atau petunjuk perjalanan berupa atlas atau globe secara manual, ataupun “peta digital” berbasis aplikasi seperti “waze” maupun “google map” yang akan menuntun dirinya mencapai tujuan perjalanan.

Sama halnya dengan hidup dan kehidupan. Manusia harus mengetahui tujuan terminal akhirnya diirinya diciptakan oleh Tuhan Semesta Alam. Dirinya harus mencari dan menemukan jalan yang benar agar bisa mencapai tujuan kehidupan, tidak tersesat dan sia-sia dalam menjalani kehidupan. Manusia membutuhkan “peta imajiner” yang akan menunjuki jalan kebenaran menuju kepada kedamaian dan kesejahteraan. Tanpa peta atau pedoman jalan yang benar dirinya akan tersesat tidak mencapai kepada hakikat dirinya diciptakan.      

Dari sini, manusia harus mengerti benar perihal definisi apa itu peta, jalan, kebenaran, dan tujuan kehidupan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, peta adalah gambar atau lukisan pada kertas dan sebagainya yang menunjukkan letak tanah, laut, sungai, gunung, dan sebagainya; representasi melalui gambar dari suatu daerah yang menyatakan sifat, seperti batas daerah, sifat permukaan; denah. Pengertian jalan adalah (1) tempat untuk lalu lintas orang; (2) perlintasan (dari suatu tempat ke tempat lain); (3) yang dilalui atau dipakai untuk keluar masuk; (4) lintasan orbit. Sementara itu, definisi kebenaran adalah (1) keadaan (hal dan sebagainya) yang cocok dengan keadaan (hal) yang sesungguhnya; (2) sesuatu yang sungguh-sungguh (benar-benar) ada; (3) kelurusan hati; kejujuran; (4) izin; persetujuan; perkenan; (5) kebetulan. 

Dari definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa “peta jalan kebenaran” adalah gambar atau tulisan dalam berbagai bentuk untuk merepresentasikan jalan atau lintasan yang sebenar-benarnya dan sunguh-sungguh sesuai keadaan untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Peta jalan kebenaran ini terdapat dua macam yaitu peta dalam arti fisik dan peta non fisik. Peta fisik adalah gambaran visual yang bisa diakses oleh mata untuk memberi petunjuk lokasi tujuan suatu perjalanan. Peta non fisik adalah gambaran konsepsi yang bersifat teori untuk memberikan pedoman dan penuntun dalam mencapai suatu tujuan tertentu. Baik peta fisik maupun non fisik memiliki petunjuk dan rambu-rambu lintasan yang harus diikuti dengan benar sehingga dapat mencapai lokasi tujuan. Karena jika salah membaca peta perjalanan, maka seseorang akan tersesat tidak sampai kepada tujuan.

Peta ini berfungsi untuk mengetahui dan mengukur keberadaan secara teoritis dengan kondisi real di lapangan saat menempuh perjalanan. Gambaran peta ini akan memastikan seseorang tetap berjalan pada lintasannya atau berbelok dan berbalik arah menjauhi tujuan. Kebedaraan peta ini bisa memastikan linieritas keterpanduan seseorang dalam melintasi jalur yang benar sesuai dengan pilihan jalan yang dilaluinya. Tanpa sebuah peta, maka tidak akan diketahui sampai dimana dan seberapa jauh lagi perjalanan akan sampai pada lokasi tujuan. Peta ini akan menjadi pedoman dan penilai suatu perjalanan tetap pada garis edarnya atau keluar dari rute etape yang telah ditentukan. Rambu-rambu peta akan mengarahkan setiap langkah perjalanan sehingga tetap konsisten menuju titik lokasi yang menjadi tujuan.     

Peta Jalan Kebenaran Menuju Kedamaian dan Kesejahteraan
Peta Jalan Kebenaran yang bersifat konsepsi ini terdapat pada kitab suci dari masing-masing agama atau sistem kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sang Pencipta sudah barang tentu memberikan pedoman dan petunjuk bagi manusia untuk mencapai tujuan penciptaan dirinya. Namun demikian, terkadang banyak diantara manusia tidak bersedia membaca “Peta Jalan Kebenaran” dengan teliti dan komprehensif, sehingga dirinya tidak mampu mencerna dan memaknai hakikat dari Jalan Kebenaran yang telah Dia sediakan untuk manusia. Manusia tidak mampu mengoptimalkan perangkat visual, auditori dan intelektualitas berfikirnya sehingga terjebak pada Jalan Kesesatan yang berujung kepada kebinasaan dan kebodohan.

Peta Jalan Kebenaran yang selalu diminta oleh kebanyakan manusia termanifestasi dalam nilai-nilai hakikat dari tulisan kitab suci. Jalan Kebenaran merupakan jalan hidup yang pernah ditempuh oleh orang-orang yang mendapat nikmat dan anugerah dari Sang Pencipta, bukan jalan dari orang-orang yang mendapat murka atau jalan orang tersesat. Jalan Kebenaran adalah konsepsi lintasan perjuangan yang dilakukan oleh para Nabi dan Rasul Allah dalam menjalankan tugasnya membangun peradaban umat manusia yang penuh kedamaian dan kesejahteraan. Anti thesis dari jalan ini adalah Jalan Kesesatan yang pernah dilalui oleh musuh para Rasul Allah yang mengajak manusia menuju kepada kegelapan dan keterjajahan antar bangsa-bangsa. Kedua jalan ini akan selalu menjadi “peta” bagi generasi yang terus bergumul sepanjang umat manusia.

Tinggal manusia hari ini harus memilih, menggunakan “Peta Jalan Kebenaran” atau “Peta Jalan Kesesatan”. Semua peta ini akan memberikan jalan atau konsepsi teori yang mulus menuju tujuannya masing-masing. Jalan Kebenaran menjamin manusia sampai kepada hakikat tujuan penciptaanya, sementara Jalan Kesesatan memastikan manusia sampai kepada laknat dan murka dari Sang Pencipta. Manusia bebas memilih tetapi tidak bebas dari konsekuensi pilihan. Jika ingin menuju kepada kehidupan yang penuh kedamaian dan kesejahteraan, maka pakailah rumusan “peta pikiran” Jalan Kebenaran dari orang-orang yang telah berhasil membangkitkan peradaban yang diridhai-Nya. Namun jika menghendaki model kehidupan penjajahan dan kebinasaan, maka gunakanlah “peta imajiner” Jalan Kesesatan seperti halnya jalan hidup Iblis, Firaun, Herodes, Abu Jahal, maupun manusia terkutuk lainnya sepanjang sejarah peradaban umat manusia.       

Konsistensi seorang manusia atau kelompok kolektif gabungan manusia telah memilih “Peta Jalan Kebenaran” sebagai konsepsi lintasan perjalanan yang ditempuh dalam mencapai tujuan kehidupannya, maka teori konseptual ini akan selalu menuntun dan memberi pedoman rambu-rambu lalu lintas dalam mengarungi perjalanannya. Peta ini akan menjadi penunjuk dan penuntun sekaligus koreksi apabila dalam berjalan telah keluar garis atau rute yang ditetapkan, sehingga dapat segera kembali kepada jalur yang benar. Ketahanan, keuletan, kegigihan, kesabaran, dan kemampuan mengoptimalkan segala sumber daya kelompok dalam menjalani setiap halangan dan rintangan dalam melintasi orbit etape “Peta Jalan Kebenaran” ini, maka sudah dapat dipastikan bahwa kelompok atau komunitas tersebut akan sampai kepada tujuan dan cita-cita kehidupannya membangun peradaban baru yang penuh kedamaian dan kesejahteraan. Sang Pencipta yang mencipta dirinya pasti ridha atas jalan hidup yang ditempuh sesuai dengan peta imajiner non-fisik yang diajarkannya itu. Selamat belajar membaca peta dan semoga bisa sama-sama berkaca.