Sabtu, 21 Oktober 2017

Ilmu Manajemen dan Manajer





Etimologi Bahasa
Kata manajemen berasal dari bahasa Latin yakni kata “manus” yang berarti tangan atau menangani suatu tugas. Selain itu manajemen juga berasal dari bahasa Perancis kuno yakni ménagement, yang memiliki arti "seni melaksanakan dan mengatur; bahasa Italia “maneggiare” yang berarti "mengendalikan," terutama dalam konteks mengendalikan kuda; dan bahasa Inggris “manage”, yang memiliki arti seni melaksanakan dan mengatur.
Setiap manusia sudah pasti melakukan aktivitas manajemen. Orang setingkat Presiden maupun seorang pedangang kaki lima melakukan kegiatan manajemen sesuai dengan skala keilmuannya masing-masing. Mereka sama-sama melakukan perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan terhadap segala macam pekerjaan yang sedang dilakukannya untuk memastikan tujuannya tercapai. Seorang Presiden mempunyai tujuan yang sangat luas dan besar sebagaimana amanat Undang-Undang Dasar 1945, sementara seorang pedangan kaki lima juga mempunyai tujuan dari apa yang telah dicita-citakannya.
Manajemen adalah ilmu universal tidak teikat ruang dan waktu. Setiap manusia hidup membutuhkan dan memberlakukan aktivitas manajemen dari bangun tidur sampai tidur kembali. Setiap diri manusia adalah manajer yang akan menyusun dan merumuskan langkah-langkah untuk mengerjakan segala sesuatu dengan efektif dan efisien sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. Siapapun manusia terikat dengan ilmu manajemen, karena setiap perencanaan akan mengakibatkan pelaksanaan dan setiap kegiatan pelaksanaan menghasilkan suatu kejadian yang membutuhakn evaluasi penilaian dan perbaikan berkelanjutan.

Pengertian Manajemen dan Manajer
Manajemen adalah suatu ilmu yang meliputi usaha manusia untuk mencapai tujuan yang telah dikalkulasikan dengan bantuan sejumlah sumber dengan cara efektif dan efisien (Komaruddin, 1994: 511). Manajemen sebagai ilmu dan seni dapat dibedakan dari obyek pengenal, metode dan pendekatannya. Manajemen merupakan ilmu yang terorganisasi dan sistematis yang bertugas untuk merumuskan asas-asas (prinsip) agar dapat menjelaskan sekelompok gejala yang berhubungan serta merumuskan kebijaksanaan atau norma-norma sebagai serangkaian tindakan yang perlu diikuti agar sasaran tercapai dengan efisien dan efektif (praktis –normatif).
Manajemen sebagai seni merupakan kajian mengenai pengalaman yang menciptakan kemahiran (kemampuan dalam tingkatan yang tinggi) dan firasat (pertimbangan yang dibuat tanpa kesadaran sebelumnya). Manajemen sebagai seni mengajarkan tentang memecahkan suatu masalah (how to do) dan menejemen sebabai ilmu akan mengajarkan bagaimana berfikir untuk memahami hakekat sesuatu (how to think). Manajemen adalah berbuat sesuatu di dalam realitas situasi.
Keterbatasan seni manajemen yang mengandalkan diri pada akal sehat (common-sense), petunjuk praktis (rule of thumb) dan situasional dapat dibantu oleh ilmu manajemen yang bertugas untuk memberikan gambaran, hitopetesa, analisa, konsep dan rekomendasi yang didasarkan pengetahuan yang terorganisasi dan sistematis.

Klasifikasi Teori Manajemen
Teori manajemen selalu tumbuh dan berkembang sepanjang zaman. Ia berevolusi dimulai dari aliran klasik sampai dengan aliran modern. Setiap aliran manajemen ini mempunyai kriteria dan karakteristik masing-masing. Setiap aliran memiliki keunggulan dan kelemahan pada zamannya masing-masing. Berikut ini diuraikan perkembangan aliran manajemen yang ada di dunia.   
Ø  Aliran klasik mendeskripsikan dan mendefinisikan manajemen sesuai dengan fungsi-fungsi manajeme seperti perencanaan, pengorganisasian, pengawasan dan penilaian. Aliran ini menekankan bahwa setiap pelaku manajemen harus memperhatikan dan memiliki kemampuan dalam menerapkan fungsi-fungsi tersebut.
Ø  Aliran perilaku mendefinisikan paham bahwa manajemen selalu berhubungan dengan perilaku manusia. Kajian aliran ini menitikberatkan dan memusatkan perhatiannya kepada aspek manusia dan arti penting manajemen dalam memahami seluk beluk perilaku manusia.
Ø  Aliran manajemen Ilmiah menerapkan disiplin ilmu matematika dan ilmu statistika untuk mengembangkan teorinya. Pendekatan numerik dan kuantitatif merupakan sarana utama yang sangat berguna untuk menjelaskan masalah manajemen dan mencari solusi atas berbagai masalah menggunakan manajemen.
Ø  Aliran analisis sistem memfokuskan pemikiran pada masalah yang berhubungan dengan bidang atau ilmu lain yang saling berkaitan dan berhubungan dalam rangka mengembangkan teorinya. Pendekatan sistem secara menyeluruh dalam menguraikan masalah manajemen dimulai dari input, proses dan output sistem.
Ø  Aliran manajemen berdasarkan hasil memfokuskan pada pemikiran hasil-hasil yang dicapai oleh manajemen bukana pada interaksi kegiatan sumber daya manusia maupun sumber daya lainnya.
Ø  Aliran manajemen mutu memfokuskan pemikiran pada usaha-usaha dan solusi pemecahan masalah untuk mencapai kepuasan pelanggan atau konsumen. Orientasi mutu menjadi standar dan landasan dalam melaksanakan manajemen pengelolaan sumber daya dalam mencapai tujuannya.

Fungsi Manajemen
Lewis A. Allen dalam Komaruddin (1994: 514) menyatakan fungsi manajemen terdiri atas : (1) memimpin; yakni pengambilan keputusan, pengkomunikasian, pemberian motivasi, penyeleksian dan pengembangan orang-orang; (2) perencanaan; yakni peramalan, penetapan sasaran, pemrograman, penjadwalan, penganggaran, pengembangan prosedur, penetapan dan penafsiran kebijaksanaan; (3) pengorganisasian; yakni perancangan struktur organisasi, pendelegasian wewenang dan tanggungjawab, penentuan hubungan-hubungan; (4) pengawaan; yakni pengembangan standar prestasi, pengukuran prestasi, penilaian hasil dan pengambilan tindakan perbaikan.
Fungsi manajemen menurut Henri Foyal terdiri atas perencanaan, pengomandoan, pengordinasian, dan pengawasan. Goerge R. Terry berpendirian bahwa fungsi manajemen terdiri atas empat fungsi yakni perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan. Sementara itu, Harold Koontz dan Cyriil O’Donnel menyatakan bahwa fungsi manajemen terdiri atas perencanaan, pengorganisasian, penyusunan staf, pengarahan dan pengawasan.
Dari berbagai macam teori di atas, penulis menyimpulkan bahwa fungsi manajemen setidaknya meliputi “Enam P” yakni perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan, pelaporan dan penilaian. Perencanaan adalah fungsi manajemen untuk merecanakan sasaran, tujuan dan jadwal dari suatu kegiatan. Pengorganisasian adalah langkah pembagian tugas, koordinasi dan komunikasi antara sumber daya organisasi. Pelaksanaan adalah implementasi rencana dari hasil koordinasi untuk mencapai tujuan.
Pengawasan adalah kegiatan pemantauan dan pengontrolan atas pelaksanaan kegiatan yang telah direncanakan. Pelaporan adalah aktivitas menyampaikan informasi hasil pengawasan kepada pihak yang bertanggung jawab atas pekerjaan yang telah ditetapkan. Penilaian adalah analisa hasil pelaporan dan pengawasan untuk menyesuaikan dengan standarisasi yang telah ditetapkan serta upaya untuk melakukan perbaikan yang berkelanjutan. Itulah siklus manajemen yang terus bergulir secara bioritmik dalam menjalankan aktivitas organisasi dalam suatu sistem.

Sarana Prasarana Manajemen
Manajemen adalah serangkaian kegaitan untuk sinkronisasi dan koordinasi pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber daya material untuk mencapai tujuan dengan cara efektif dan efisien. Untuk menjalankan fungsi manajemen dalam rangka mencapai suatu tujuan, maka dibutuhkan sarana dan prasarana manajemen untuk mendukungnya.
Sarana dan prasarana manajemen ini sering penulis sebut dengan istilah “Enam M”, yang meliputi man, material, metods, mechine, money, markets. Man adalah sumber daya manusia sebagai aktor utama pelaksana manajemen dalam menggerakkan seluruh aktivitas organisasi. Material adalah bahan baku atau bahan masukan untuk diubah menjadi suatu barang atau nilai yang lain dan lebih berhasil guna dan bermanfaat guna. Metods adalah metode, mekanisme, prosedur, metodeologi merubah material input menjadi output yang lebih bernilai tinggi. Mechine adalah alat bantu atau mesin untuk mempercepat, mempermudah dan memperlancar aktivitas perubahan input menjadi output. Money adalah sumber daya keuangan atau material yang menggerakkan secara finansial seluruh aktivitas manajemen. Market adalah pasar atau sasaran dari produk dan hasil output suatu aktivitas manajemen organisasi.
Sarana dan prasarana “Enam M” ini mutlak dan harus ada dalam setiap kegiatan manajemen organisasi baik yang berorientasi laba maupun waralaba. Setiap organisasi atau perusahaan yang menjalankan proses produksi atau edukasi memerlukan sarana tersebut guna menjamin dan memastikan kualitas hasil outputnya. Kemampuan pengelolaan sumber daya sarana prasarana tersebut akan menentukan tingkat efektivitas dan efisiensi sebuah sistem organisasi dalam mencapai tujuan visi dan misinya.  

Peranan Manajer dalam Manajemen
Manajemen sebagai suatu fungsi membutuhkan figur manusia untuk menjalankannya. Aktivitas dan fungsi manajemen diperankan oleh seorang manajer. Manajer adalah seseorang yang bekerja melalui orang lain dengan mengoordinasikan kegiatan-kegiatan guna mencapai sasaran organisasi. Manajer merupakan seseorang yang bertugas untuk melakukan kombinasi faktor-faktor produksi dengan cara efisien dan efektif untuk mencapai tujuan yang direncanakan.
Henry Mintzberg, seorang ahli riset ilmu manajemen, mengemukakan bahwa ada sepuluh (10) peran yang dimainkan oleh manajer di tempat kerjanya. Ia kemudian mengelompokan kesepuluh peran itu ke dalam tiga kelompok.
1.      Manajer sebagai peran antar pribadi. Manajer selalu melibatkan diri dengan menjalankan hak dan kewajiban kepada orang lain yang tergabung dalam organisasinya. Peran ini lebih bersifat seremonial dan simbolik sebagai seorang figur atau panutan, pemimpin, dan penghubung antar sumber daya.
2.      Manajer sebagai peran informasional. Manajer adalah seorang yang menjadi sumber informasi dan komunikator dalam organisasi. Ia memiliki tugas sebagai pemantau dan penyebar informasi kepada seluruh jenjang organisasi. Ia juga berperang sebagai juru bicara.
3.      Manajer sebagai peran pengambilan keputusan. Manajer adalah subyek untuk mengambil keputusan dalam setiap perjalanan organisasi. Ia berperan sebagai seorang wirausahawan yang mencari peluang dan potensi sumber daya. Manajer juga berfungsi sebagai pemecah masalah (problem solver), pembagi sumber daya, dan perunding serta penyelesai konflik antar sumber daya manusia.

Ketrampilan Manajer dalam Manajemen
Seorang manajer yang mengelola aktivitas dan fungsi manajemen harus memiliki kualifikasi dan spesifikasi kecerdasan maupun kemampuan secara spesifik. Manajer adalah kedudukan atau jabatan yang memerlukan kecepatan dan ketepatan dalam mengelola sistem informasi dan komunikasi dalam rangka mengalokasikan dan mengatur sumber daya untuk mencapai tujuan organisasi. Oleh karena itu, seorang manajer harus memiliki ketrampilan pada ranah konseptual maupun operasional sebagai berikut.
1.      Keterampilan konseptual (conceptional skill). Manajer tingkat atas (top manager) harus memiliki keterampilan dalam merumuskan konsep, ide, dan gagasan demi kemajuan organisasi. Gagasan atau ide yang bersifat abstrak tersebut harus mampu divisualisasikan lebih konkret agar mudah dipahami orang lain serta dijabarkan menjadi suatu rencana kegiatan yang bersifat nyata. Proses penjabaran dan aktualisasi ide menjadi suatu rencana kerja yang konkret itu disebut sebagai proses perencanaan. Keterampilan konsepsional seorang manajer meliputi kemampuan rancang bangun suatu ide dan gagasan serta mewujudkannya dalam rencana kerja.
2.      Keterampilan berhubungan dengan orang lain (humanity skill). Ketrampilan ini sering disebut juga dengan ketrampilan kemanusiaan berupa kemampuan seorang manajer untuk berkomunikasi, berinteraksi dan berhubungan dengan orang lain. Komunikasi yang persuasif adalah rumus dasar untuk menjamin kelancaran proses kinerja sumber daya manusia yang dipimpinnya. Kemampuan berkomunikasi dan mengelola informasi ini akan meningkatkan penghargaan dan keterlibatan seluruh sumber daya organisasi dalam mencapai tujuan bersama. Keterampilan berkomunikasi sangat diperlukan oleh manajer di seluruh jenjang struktural.  
3.      Keterampilan teknis (technical skill). Keterampilan teknis ini merupakan perangkat kecerdasan intelektual yang bersifat (hard skill) dari seorang manajer terhadap ilmu atau profesionalisme pekerjaannya. Keterampilan teknis ini merupakan kemampuan untuk menjalankan suatu pekerjaan tertentu dan memperbaiki suatu permasalahan yang ada pada pekerjaan tersebut. Contoh keterampilan teknis adalah kecakapan menggunakan komputer, memperbaiki mesin operasi, akuntansi dan lain-lain. Ketrampilan ini biasanya dimiliki oleh manajer tingkat menengah dan bawah.
4.      Keterampilan manajemen waktu (time skill). Keterampilan merupakan waktu akan menentukan efisiensi pencapaian tujuan dari suatu organisasi. Semakin kecil waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan maka semakin kecil biasa yang dikeluarkan oleh organisasi. Seorang manajer harus memiliki keterampilan mengelola dan menggunakan waktu secara arif dan bijaksana dalam menyusun rencana dan jadwal alokasi sumber daya manusia maupun sumber daya material.  
5.      Keterampilan membuat keputusan (decision making skill). Ketrampilan ini meliputi kemampuan seorang manajer untuk mendefinisikan masalah dan menguraikan sumber permasalahan serta menentukan cara terbaik dalam memecahkannya. Kemampuan membuat keputusan adalah yang paling utama bagi seorang manajer, terutama bagi kelompok manajer atas (top manager). Sistematika atau langkah-langkah umum dalam mengambil keputusan meliputi; (1) Manajer harus mendefinisikan masalah dan mencari berbagai alternatif yang dapat diambil untuk menyelesaikannya. (2) Manajer harus mengevaluasi setiap alternatif yang ada dan memilih satu alternatif yang dianggap paling baik dan minimalisir resiko. (3) Manajer harus mengimplementasikan alternatif yang telah dipilih serta mengawasi dan mengevaluasinya agar tetap berada di jalur yang benar dan sesuai standar yang telah ditetapkan.

Itulah hakekat dan pengertian dari manajemen dan manajer. Ilmu ini bersifat universal dan bisa diterapkan kapan saja dan dimana saja oleh siapa saja. Ilmu manajemen adalah ilmu dan seni yang mengajarkan kepada manusia tentang fungsi dan aktivitas manusia dalam mengelola sumber daya manusia dan material untuk mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien. Kecakapan dan ketrampilan seorang manajer dalam mengatur sarana dan prasarana “Enam M” dengan kedisiplinan menerapkan fungsi manajemen “Enam P” akan menghasilkan suatu output organisasi yang sesuai dengan rencana dan tujuannya.
Itulah esensial manusia sebagai khalifah-Nya, bekerja berdasarkan ilmu-Nya, dalam mencipta sesuatu yang tidak ada menjadi ada. Semua ilmu bisa dipelajari pada alam ciptaannya. Begitu juga dengan ilmu manajemen yang terbentang di seluruh ufuk alam raya. Semua bentuk konkrit makhluk ciptaannya adalah media bagi manusia untuk memikirkan segala sesuatu dibalik eksistensi keberadaannya. Ilmu itulah esensi dari eksistensi alam semesta. Manusia bertugas untuk mendownload ilmu pada alam dan kemudian menguploadnya untuk kebermanfaatan pada alam. Itulah karunia ilmu terbesar bagi manusia yang selalu bersyukur dan berbagi antar sesama makhluk-Nya sehingga menjadi rahmat bagi semesta raya.  

Rabu, 20 September 2017

Refleksi dan Kontemplasi 32 Tahun-ku



Refleksi dan Kontemplasi 32 Tahun-ku

Segala Puji bagi Allah, Raja dan Tuan dari alam semesta yang telah memberikan hidup dan kehidupan bagi seluruh makhluk-Nya di seantero jagad raya. Aku bersyukur kepada Dia karena telah mencipta dan membesarkanku melalui perantaraan kedua orang tuaku. Aku memuja kebesaran diri-Mu yang telah merubah genetik sperma dan ovarium tak berbentuk kala itu hingga kini telah menjadi makhluk berbentuk lain seperti diriku, makhluk manusia dengan segala kelengkapan instrumen di dalam diri, dengan segala kelebihan dan kekurangan.

Kini aku menginjak usia 32 tahun semenjak kelahiranku saat itu, hari Jumat tanggal 20 September 1985. Aku telah diberikan nikmat hidup oleh-Mu tidak kurang dari 32 tahun atau 11.520 hari; 276.480 jam; 16.588.800 menit;  995.328.000 detik. Selama jutaan detik itulah aku dapat bernafas dengan udara yang dikaruniakan oleh Allah tanpa mengeluarkan biaya sepeser pun. Air dan makanan yang dianugerahkan oleh-Nya tidak cukup kata-kata aku dapat bersyukur kepadanya. Pelayanan kasih dan sayang-Nya benar-benar aku rasakan hingga kini, sehingga tidak ada kata lain selain aku akan tetap berusaha memuji diri-Mu, “alhamdulillahi rabbil alamin”, segala puji bagi Allah rabb sekalian alam.

Rahman dan Rahim-Mu sungguh tiada tara. Pada hari ini aku juga telah mendapatkan petunjuk universal “jalan yang lurus” yang selalu diminta-minta oleh mayoritas manusia dan bangsa-bangsa. Lagi-lagi kasih karunia-Mu telah membuka pintu gerbang pemikiranku untuk sanggup tunduk dan patuh kepada Jalan Kebenaran yang menjadi tradisi sunatullah sepanjang masa. Sebuah jalan mendaki lagi sukar tetapi mudah bagi orang-orang yang konsisten terhadapnya. Jalan fitrah yang mengajak manusia berangkat dari keterpurukan kepada keteraturan, kebodohan kepada kepandaian, gelap kepada terang, jahiliyah kepada madinah, kalabendu kepada kalasuba, dan dari chaos to cosmos. 

Kini menjadi tugas dan pengabdianku sebagai hamba-Nya untuk mencari ridha-Nya. Dia telah memberikan segala kebutuhan dari ketiadaanku hingga keberadaanku seperti hari ini. Aku wajib berbakti dan memberikan bukti kesetiaan kepada pencipta diri-Ku yang menjadi satu-satunya Tuan bagi diriku. Tidak ada tuan-tuan lain selain Tuan Semesta Alam yang mencipta diriku. Aku harus berjuang dan berusaha untuk bisa mewujudkan tujuan Dia menciptaku. Allah mencipta manusia dengan tujuan tertentu. Dia tidak mencipta secara sia-sia terhadap seluruh makhluk yang didesign oleh-Nya.

Dia mencipta manusia agar menjadi potret diri-Nya. Manusia harus menjadi wakil-Nya atau khalifah-Nya di muka bumi. Tentu saja, teori atau dalil ini mengikat diriku sebagai salah satu dari milyaran manusia yang diciptakan oleh-Nya. Aku harus mampu berakhlak seperti akhlak Dia dalam kapasitas sebagai manusia. Jika Allah Tuan Semesta Alam Maha Pengasih dan Penyayang, maka diriku juga harus mempunyai sifat kasih dan sayang. Aku harus bisa berbuat kasih dan sayang kepada makhluk lain sebagaimana Allah telah berbuat kasih dan sayang kepada makhluk-Nya. “Bismillah ar rahman ar rahim” harus terus terpatri dan menjadi karakter dalam diriku sehingga akan dianggap layak dan patut menjadi wakil-Nya di muka bumi.

Konsepsi dan teorema di atas selalu menjadi bahan kontemplasi dan renungan bagiku. Selalu muncul pertanyaan untuk dapat mengukur seberapa besar diriku ini bermanfaat bagi makhluk lain. Kini di hari yang sudah menembus hari ke-11.520 + 1 beberapa pertanyaan ini harus terus aku refleksikan agar bisa bertanggung jawab kepada penciptaku. Adapun pertanyaan itu ada di sini;

Seberapa besar diriku bermanfaat bagi Penciptaku?
Seberapa besar diriku bermanfaat bagi diriku?
Seberapa besar diriku bermanfaat buat orang tuaku?
Seberapa besar diriku bermanfaat bagi komunitasku?
Seberapa besar diriku bermanfaat bagi bangsaku?
Seberapa besar diriku berguna bagi alam semestaku?

Pertanyaan akan nilai kegunaan diri kepada diri dan lingkungan lainnya di atas harus terus dijawab dan diukur sepanjang waktu untuk bisa memastikan daya kebermanfaatan diri kepada makhluk yang lain. Derajat nilai ini dapat dilihat atau diamati dari karya cipta dan perilaku diri yang diberikan kepada makhluk lain. Semakin bisa memberikan kasih dan sayang, dalam bentuk material maupun inmaterial, maka tentu saja derajat kegunaan semakin meningkat. Daya kebermanfaatan seseorang identik dengan banyaknya perjuangan dan atau pengorbanan dirinya untuk berbuat kasih dan sayang kepada makhluk yang lainnya.

Semoga dengan evaluasi dan refleksi nilai kegunaan diri ini akan menjadi proyeksi dalam rangka mewujudkan cita-cita ideal sebagai manusia paripurna sesuai kehendak-Nya. Dia mencipta alam semesta untuk memberikan nilai kegunaan dan kebermanfaatan kepada manusia. Tuan Semesta Alam telah melayani manusia dengan makhluk alam lainnya. Oleh karena itu, manusia sebagai bagian dari alam harus mampu berbuat dan bertindak sebagaimana makhluk alam seperti flora dan fauna yang hidupnya diperuntukkan untuk kepentingan manusia. 
Akhir kata, dalam masa-masa kehidupanku ke depan ini, maka aku akan tetap berusaha menjadi manusia yang bermanfaat bagi makhluk lainnya. Aku ingin menjadi seperti salah seorang manusia yang diutus oleh-Nya untuk menjadi rahmat bagi alam semesta “rahmatan lil alamin”. Aku adalah manusia yang mempunyai banyak keterbatasan, sehingga aku akan berdoa meminta pertolongan kepada-Nya. Aku akan bersabar dan bertawakal terhadap menapaktilasi “Jalan Kebenaran” ini sampai usiaku habis ditelan oleh waktu. Aku akan konsisten terhadap komitmen yang telah kuikrarkan kepada pencipta diri-Ku. Semoga Dia melindungi dan menolong sepanjang hidup diriku.   

Selasa, 19 September 2017

Setiap Yang Hidup Pasti Mati




Setiap Yang Hidup Pasti Mati
(Keteladanan Pohon Cabai)

Awal Kehidupannya
            Pohon cabai ini penulis cabut pada hari Sabtu tanggal 16 September 2017 pukul 08.30 WIB. Ia telah layu tak berdaya untuk berdiri di tanah tempat singgahnya. Ia tersandar dengan bambu dan ikat tali yang menjeratnya. Ia tak lagi sumringah tetapi sudah menua dan uzur dimakan usia. Ia tak sanggup lagi berbuah dari pangkal dahan tanamannya.
            Penulis bergegas menegakkan batang tubuhnya agar berdiri tegak. Tetapi apalah daya dirinya tetap kembali bersandar pada sandarannya. Ia sudah lelah dan menyerah. Ia tidak lagi produktif seperti biasanya. Banyak penyakit dan virus menyerangnya. Tak tega dengan situasi dan kondisinya, akhirnya ia mati dicabut dari tanah airnya.
  
Masa Pertumbuhannya
            Tanaman cabai ini ditabur kurang lebih pada bulan Juni tahun 2016. Awalnya ia hanyalah sebuah bulir kecil hitam tidak lebih dari 5 gram. Ia kemudian disemai di dalam tanah dan memulai masa-masa hidupnya dengan kemunculan tunas pertamanya. Benih ini mampu melawan daya desakan tanah dan mencari jalan keluar sehingga bisa mendapatkan sinar matahari untuk fotosintesis. Ia terus bergeliat sepanjang waktu dan semakin menampilkan pertumbuhan perkembangannya.
Kesehariannya ia tumbuh berkembang dengan makanan utama air dan pupuk yang diberikan oleh penanamnya. Tunas itu kemudian tumbuh mengeluarkan batang dan dedaunan. Semakin hari semakin membasar akar, batang dan daunnya. Awalnya hanya beberapa dahan dan daun tetapi setelah beberapa hari berikutnya sudah tidak terhitung jumlah daun hijaunya. Tanaman cabai ini terus tegap menjulang melawan angin dan terpaan penyakit lainnya sehingga bisa berdiri kokoh pada tempatnya.

Masa Panen dan Kebermanfaatannya
            Pada kisaran bulan Desember 2016 (enam bulan pasca penanaman), tanaman cabai ini sudah setinggi anak-anak. Ia gagah perkasa dan mulai mengeluarkan buah cabainya. Ia mulai menampakkan karya utamanya berupa bulir-bulir cabai yang menguning. Pamadangan ini sangat menyenangkan bagi penulis yang menanamnya. Hari demi hari volume dan diameter buah cabai semakin membesar dan berubah warnanya.
            Pada saat itu juga, tanaman cabai ini sedang dan akan terus memberikan kebermanfaatan universal bagi penanam atau makhluk lainnya. Buah cabai yang sudah besar dan matang dapat dipanen untuk dinikmati oleh penanamnya. Tidak hanya itu, cabai ini juga diberikan kepada orang lain yang menginginkannya. Ia berhasil dalam masa hidupnya karena bisa berbuah untuk kepentingan di luar dirinya.
            Pohon cabai ini rela berkorban saat buah cabainya dipetik oleh penanamnya. Ia mungkin merasakan sakit karena bagian tubuhnya diambil dan dicabut oleh makhluk lainnya. Ia pasrah dan berserah diri penanamnya mengambil hak dari buah cabainya. Ia ikhlas berkarya dan berbuah untuk dinikmati oleh manusia. Ia bersyukur dapat melayani manusia karena itulah yang menjadi tugas pokoknya diciptakan oleh Tuan Semesta Alam menservis umat manusia. Rasa pedasnya telah menjadi nilai kegunaan dan kebermanfaatan bagi makhluk lainnya. Ia terus berbuah ratusan buah cabai. Ia mencapai puncak produksi dengan jumlah cabai yang tidak terhitung lagi.
Ia tetap berusaha maksimal memberikan karya terbaik pada masa muda atau dewasanya. Namun demikian, seiring dengan waktu dan bertambahnya usia cabai maka produktivitasnya mulai menurun. Ia tidak sanggup lagi berbuah sebagaimana masa-masa sebelumnya. Ia termakan oleh waktu dan tak sanggup lagi berbuah dan memberikan manfaat bagi sekelilingnya. Pohon ini sudah sampai kepada ajalnya.

Masa Kematian Baktinya
            Akhirnya, pada bulan Septermber tahun 2017 atau 15 bulan masa hidupnya (457 hari) dirinya harus dicabut dari tanahnya. Pohon cabai ini mati setelah hampir satu setengah tahun hidup menemani penulis dalam kesehariannya. Ia telah banyak berjasa memberikan “rasa pedas” kepada penulis sebagai penanamnya. Ia telah membuktikan bahwa dirinya sanggup berkorban atas segala sesuatu yang dimiliki kepada tuannya. Ia rela mati pasca berhasil dan sukses memberikan kegembiraan kepada penanamnya.
            Ia telah meninggalkan batang dan tubuhnya yang telah tercabut dari akarnya. Akan tetapi benih dan bijinya tetap abadi karena telah disemai menjadi bibit-bibit baru hasil dari pembuahan cabai yang diambil untuk benih generasinya. Ia tidak hidup sia-sia karena telah mengabdi dan mencurahkan hasil karya dirinya untuk makhluk hidup yang lainnya. Kematiannya pun tidak sia-sia karena sisa-sisa batang dan daunnya menjadi pupuk bagi tanah yang ditinggalkannya.

Nilai Pelajaran Tentangnya
            Itulah pohon sebagai makhluk hidup. Dari awal kehidupannya sampai kematiannya tidak pernah tidak bermanfaat bagi makhluk lainnya terutama bagi manusia. Ia telah berjuang hidup melawan ujian alam dan berhasil membaktikan dirinya dengan memberikan buah cabai sebagai karya yang bermanfaat bagi umat manusia. Ia tidak akan mati sebelum memberikan hasil buahnya. Karena dia hidup, maka sudah pasti tatkala waktunya tiba ajal akan menjemputnya. Ia menjadi terkesan karena berhasil memberikan dampak kegembiraan kepada penanamnya.
            Bagi manusia yang berfikir, tentu saja peristiwa ini menjadi pelajaran yang sangat berharga. Bahwa manusia tidak boleh kalah dengan makhluk lainnya dalam rangka memberikan nilai kegunaan dan kebermanfaatan bagi makhluk lainnya. Manusia harus sanggup berkorban dalam masa-masa hidupnya untuk kepentingan manusia lainya. Dirinya harus sanggup “dipetik” demi kepentingan, kegunaan dan kebermanfaatan misi kehidupan makhluk lainnya.
            Manusia seyogyanya mampu berkarya dan berbakti semasa diberikan ruang dan waktu serta kesempatan pada masa hidupnya. Perbedaan antar manusia hanya ditentukan oleh kegunaan dan kebatilan manusia tersebut kepada suatu kepentingan yang lebih besar. Setiap cipta, rasa dan karsa manusia akan memberikan dampak bagi kehidupan lainnya. Baik dan buruknya karya manusia pada masa hidupnya akan menetukan eksistensi dan esensi manusia pada masa kematiannya. Semua terikat dengan hukum-Nya, siapa yang menanam pasti memanen.
            Itulah hakikat Sang Tuan Raja Alam Semesta mencipta manusia. Dia ingin manusia menjadi potret diri-Nya yang menjadi eksponen memberikan nilai kegunaan dan kebermanfaatan bagi dirinya, sesamanya, makhluk lainnya, dan seluruh alam semesta. Setiap manusia diberikan talenta untuk dikembangkannya sehingga menjadi potensi universal untuk melayani dan berbagi kasih sayang kepada sesamanya. Manusia jangan sampai kalah dalam berbuat kasih sayang sebagaimana pohon cabai memberikan kasih dan sayangnya kepada manusia dalam masa-masa hidupnya. Jadilah manusia seperti Dia yang Maha Pengasih dan Penyayang bagi seluruh makhluk-Nya.
             

Kamis, 17 Agustus 2017

REFLEKSI DAN PROYEKSI JEMBATAN EMAS KEMERDEKAAN RI





Gemerlap Dirgahayu Indonesia
Gebyar kemeriahan fitur dan ornamen bendera Indonesia terpampang menghiasi Gapura dan beberapa lorong tempat di penjuru wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ilustrasi ini menggambarkan penghormatan dari sebagian kecil rakyat negeri, yang dengan sadar tanpa paksaan, bahkan tanpa dukungan material, mereka mampu bergotong royong untuk menyambut peringatan hari Kemerdekaan Republik Indonesia dengan suka cita dan kemeriahan.
Tidak sebatas mempercantik artefak fisik dan pancangan bendera di setiap sudut jalan, masyarakat negeri ini juga merayakannya dengan aktivitas mental dan sosial melalui berbagai macam lomba untuk semua jenjang generasi. Anak-anak, tua-muda, kaya-miskin, laki-perempuan, semuanya membaur dalam satu semangat moril untuk berpartisipasi “senang-senang” berebut hadiah dan bingkisan ala kadarnya. Rakyat berhasil menghibur dirinya di sela-sela aktivitas rutin yang membelenggunya. Mereka bercanda, tertawa dan bergembira ria.  
Ekspresi positif ini tentu mengandung makna akan ketersediaan dan kesetiaan masyarakat terhadap negara yang ditinggalinya ini. Semangat dan daya korban mereka mampu memberikan ingatan memori bahwa segala sesuatu kejadian bisa diupayakan melalui kesadaran kolektif kebersamaan antara pejabat dan rakyat, dalam hal ini radius terkecil Rukun Warga dan Rukun Tetangga. Keberhasilan berhias dan memperindah “gapura” ini membuktikan bahwa “rakyat” tetap cinta tanah air, dengan segala rasa dan dilema atas apa yang telah diberikan Negara kepada masyarakat selama 72 tahun ini.
Gairah perayaan kemerdekaan tidak hanya dimiliki oleh rakyat biasa. Para pejabat dan petinggi negara, pada hari yang sama, juga melaksanakan tradisi atau ritual peringatan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Istana Negara. Prosesi dan protokoler peringatan kemerdekaan di Istana tentu saja berbeda dan lebih “sakral” dari pada masyarakat umumnya. Semua perwakilan Lembaga Tinggi Negara hadir menyaksikan detik-detik dan pembacaan Teks Proklamasi Indonesia, pengibaran dan penghormatan kepada bendera, serta menyanyikan Indonesia Raya, dan lain sebagainya. Bedanya lagi, semua biaya penyelenggaraan acara yang menghabiskan milyaran rupiah ini ditanggung oleh Negara, bukan inisiasi “saweran” atau “patungan” bersama-sama dari para pesertanya.

Kemerdekaan Sebagai Kelahiran
Hal pokok yang ingin disampaikan dalam tulisan ini bukanlah perihal kegiatan perayaan yang bersifat simbolis dan rutinitas tahunan ini. Adalah hal teramat penting untuk memaknai dan membaca semangat lagu yang mengingatkan akan fungsi proklamasi Indonesia. Lirik lagu tersebut berbunyi demikian, “Tujuh belas Agustus tahun empat lima, Itulah hari kemerdekaan kita, Hari merdeka nusa dan bangsa, Hari lahirnya bangsa Indonesia, Merdeka, Sekali merdeka tetap merdeka, Selama hayat masih di kandung badan, Kita tetap setia tetap sedia, Mempertahankan Indonesia, Kita tetap setia tetap sedia, Membela negara kita.” Lirik lagu ini mempunyai esensi fundamen sebagai alat untuk mengukur dan menilai segala situasi dan kondisi perjalanan Republik Indonesia.
Dalam lirik tersebut sangat jelas, bahwa 17 Agustus 1945 adalah hari kelahiran bangsa Indonesia. Bangsa ini memiliki ruang dan waktu kelahirannya, sama identik dengan bayi manusia yang lahir dari mulut rahim ibunya. Setiap bayi lahir tentu saja melalui fase-fase kehidupannya mulai dari kanak-kanak, remaja, dewasa, tua, pikun dan akhirnya meninggal dunia. Begitu juga dengan sebuah bangsa, dia pernah lahir kemudian mengalami masa-masa sebagaimana manusia menjalani hidup dan kehidupan sampai kepada keparipurnaan dan kematiannya.
Untuk melihat sampai dimana bangsa Indonesia ini eksis dan establish menjalani hidup dan kehidupannya tentu harus dilihat kemampuan dan kecakapannya dalam beradaptasi dan mengendalikan lingkungan kebangsaannya. Kemampuan seorang bayi akan berbeda dengan kemampuannya ketika masa remaja ataupun dewasa, begitu juga kemampuan optimalnya akan menurun ketika dirinya sudah memasuki usia senja. Aksi dan reaksi dari suatu bangsa dalam mengatasi permasalahan nasionalnya menentukan level dan derajat keberadaan dirinya, apakah negara itu dalam kondisi balita, dewasa, atau memasuki usia senja.
Pada hakikatnya, setiap kelahiran akan menyediakan ruang kebebasan bagi balita untuk berkembang sesuai dengan lingkungan dan ideologinya. Begitu juga sebuah bangsa yang berhasil mencapai kemerdekaan harusnya terbebas dari belenggu penjajahan dengan segala dimensi dan aspeknya. Kemerdekaan adalah jembatan emas yang akan mengantarkan suatu kumpulan individu, keluarga, komunitas, maupun postur lembaga negara untuk mencapai cita-citanya. Tanpa adanya “jembatan emas” atau “jalan penyeberangan”, maka himpunan manusia ini tidak akan bisa menyeberang ke suatu tempat yang menjadi tujuan hidupnya, bahkan bisa tenggelam dalam lautan samudera peradaban semesta.  

Refleksi Cita dengan Realita
Sehari setelah Proklamasi, bangsa Indonesia bersepakat mengikatkan dirinya pada cita-cita dan tujuan bersama sebagaimana dinyatakan dalam alenia keempat Undang-Undang Dasar 1945 berikut ini. “Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada : Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”
Cita-cita luhur bangsa Indonesia ini telah diupayakan dan diusahakan melalui berbagai macam bentuk Negara dan model kepemimpinan bangsa. Semenjak kelahirannya, bangsa ini sepakat menggunakan Negara Republik Indonesia sebagai bentuk negara untuk menjalankan fungsi pemerintahannya. Namun demikian, cita-cita membangun dan mempertahankan negara ini harus kandas pada tahun 1949 karena Agresi Militer I dan II oleh Belanda. Pada tanggal 27 Desember 1949 dideklarasikan Republik Indonesia Serikat disingkat RIS, (Republic of the United States of Indonesia; Verenigde Staten van Indonesië) sebagai suatu negara federasi hasil kesepakatan tiga pihak dalam Konferensi Meja Bundar antara Republik Indonesia, Bijeenkomst voor Federaal Overleg (BFO), dan Belanda. Bentuk negara ini tidak berjalan lama, karena pada tanggal 17 Agustus 1950 Republik Indonesia Serikat dibubarkan dan diganti dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
NKRI berjalan dengan berbagai macam model pemerintahan dimulai dari Orde Lama, Orde Baru, dan Orde Reformasi hingga hari ini. Negara telah melakukan usaha untuk mewujudkan cita-cita menjadi realitas dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Banyak prestasi dan pencapaian besar diperoleh masing-masing Kepala Negara pada masanya masing-masing. Semua sudah, sedang dan akan terus berkarya melanjutkan kemerdekaan demi mewujudkan tujuan bernegara. Namun demikian, warga negara harus terus memonitor jalannya negara, jangan sampai salah arah dan melenceng dari tujuan pendiriannya.
Cara melihat apakah Negara ini masih berkomitmen dan konsisten dengan tujuannya atau tidak, bisa dilihat dari indikator dan instrumen pencapaian dari masing-masing tujuan negara dalam Pembukaan UUD 1945. Apakah negara ini melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia? Sudah memajukan kesejahteraan umum? Sudah mencerdaskan kehidupan bangsa? dan sudah ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial? Tentu saja untuk mengukur perwujudan cita-cita dengan realita hari ini harus menggunakan data dan statistik maupun kondisi sosial yang terjadi pada bangsa ini.
Sebagai suatu refleksi dan evaluasi, cita-cita negara ini harus dihadapkan dengan realitas sosial kemasyarakatan sehingga akan terlihat disparitas atau kesenjangan antara visi misi dengan kenyataannya. Dalam konteks keberhasilan tujuan Negara melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dapat dilihat dari beberapa kasus pelanggaran HAM di Indonesia, hegemoni kaum mayoritas atas minoritas, perang antar masa karena perselisihan ras dan golongan, maupun kasus lain yang menyebabkan hilangnya nyawa warga negara tanpa jaminan hukum. Tragedi-tragedi masa lalu juga menjadi ukuran sekunder untuk memastikan negara telah berhasil atau belum dalam mewujudkan tujuan ini.
Indikator keberhasilan Negara mewujudkan kesejahteraan umum dapat dievaluasi dari laporan Indeks Pembangunan Manusia Indonesia (Human Development Index) yang berada di peringkat 113 dari 188 negara, dimana terjadi penurunan dari tahun 2015 yang berperingkat dari 110. Terkait dengan mencerdaskan kehidupan bangsa, satu indikator global terkait pendidikan menempatkan Indonesia pada peringkat ke 64 dari 72 negara dalam melihat kemampuan membaca, sains, dan matematika pada anak yang berusia 15 tahun, sebagaimana hasil survei Programme International Student Assessment (PISA) yang dirilis terakhir tahun 2015.
Catatan lebih menarik lagi terkait usaha Negara dalam mewujudkan tujuannya ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, dimana realitas global Negara masih terombang-ambing oleh kepentingan antara Blok Barat dan Blok Timur. Indonesia berada dalam cengkeraman neo-imperialisme gaya baru, dengan indikator meroketnya hutang Negara kepada dunia Internasional. Secara tidak langsung, kondisi ini mempengaruhi daya kenetralan Negara dalam menetukan sikap non-blok gaya baru, dimana situasi Internasional hari ini dalam ujian bersama, terutama dengan munculnya gerakan radikalisme, separatisme, dan terorisme transnasional.
Gambaran situasi di atas menjadi cermin reflektif bagi segenap aparatur dan penyelengara negara baik lembaga legeslatif, eksekutif dan yudikatif. Para pengemban amanat inilah yang dituntut untuk selalu mengikatkan diri dalam berfikir, berkata dan bertindak berlandaskan konstitusi atau dasar negara Pancasila dan UUD 1945. Merekalah eksponen yang paling bertanggung jawab atas maju dan mundurnya atau eksis tidaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia pada masa sekarang dan yang akan datang. Rakyat hanyalah unsur kolektif yang berperan aktif mengikuti keteladanan dari para pimpinannya. Refleksi ini harus dijadikan proyeksi dan tantangan dalam menghadapi situasi percaturan internal dan eksternal kehidupan berbangsa dan bernegara.  

Proyeksi Konstitusi Menuju Kemerdekaan Sejati   
Sebagai eksponen dan komponen nahkoda kapal besar bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia, unsur Kepemimpinan Nasional sebagai pengambil kebijakan harus mampu melihat kualitas dirinya agar selalu aktif dan reaktif menghadapi permasalahan nasional, regional maupun global. Evaluasi hasil refleksi atas pencapaian dari berbagai indikator pertumbuhan dan perkembangan kehidupan bernegara ini harus menjadi dasar proyeksi untuk merumuskan langkah stategis dan teknis dalam rangka mewujudkan cita-cita negara dengan efektif dan efisien berlandaskan konstitusi.
Para pemimpin yang mendapat mandat dari rakyat (pilihan rakyat) seharusnya benar-benar mampu menyesuaikan diri dengan tagihan konstitusi sebagai dasar negara. Para pemimpin inilah yang menjadi lokomotif untuk memberikan contoh dan keteladanan cara hidup dan kehidupan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Lima dasar negara inilah yang harus menjadi “Jembatan Pikiran” dalam setiap menjalankan kekuasaannya.
Manusia Indonesia harus benar-benar beriman kepada Ketuhanan Yang Maha Esa. Mereka harus mengintegrasikan diri “manunggal” dengan prinsip, ajaran dan hukum utamanya yaitu kasih dan sayang. Berbuat baiklah kepada manusia sebagaimana Tuhan Yang Maha Esa telah berbuat baik kepadamu. Cintailah Allah segenap akal budimu dan cintailah manusia sebagaimana mencintai dirimu sendiri. Kesadaran ilahiah ini harus ada dalam setiap pemimpin dan warga negara, sehingga akan tercipta konektivitas hubungan manusia kepada-Nya, kepada sesama manusia maupun alam semesta. Dengan kekuatan spiritual universal ini, maka secara otomatis akan tercipta manusia yang adil dan beradab, bersatu, merakyat dan berkeadilan sosial.
Anti thesis-nya, jika manusia Indonesia salah dalam menerapkan prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa, maka dirinya akan menjadi manusia atheis yang lebih buas dari binatang. Dia tidak takut melawan hukum Tuhan seperti mencuri, berzina, membunuh, berdusta dan lain sebagainya. Oleh karenanya, jika ada pemimpin Negeri ini yang berani korupsi uang rakyat, itu artinya dia sedang berkhianat kepada-Nya. Tuhan YME melarang mencuri tetapi dirinya tetap korupsi, tertangkap tangan, bahkan beberapa mantan Menteri, Gubernur, Walikota, Bupati, Camat, Lurah telah menjadi terpidana kasus korupsi. Bangsa ini harus berhati-hati karena telah menjadikan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai dasar negara, karena jika melanggar prinsip dan ajaran-Nya, maka bangsa ini akan mendapat kutuk dari Dia.
Oleh karena itu, bangsa Indonesia harus menjadi hamba yang tulus dalam mencintai Tuhan YME dengan selalu tunduk patuh melaksanakan seluruh kehendak, prinsip dan hukum-Nya sehingga bisa mendapatkan berkat dari-Nya. Cita-cita Negara pasti terwujud jikalau segenap eksponen dan komponen Negeri ini konsisten menjalankan Konstitusi Negara yang berlandaskan Ketuhanan Yang Maha Esa. Namun sebaliknya, jika para pemimpin tidak mau dan mampu mengamalkannya, maka “jembatan emas” akan rubuh dan gapura kemerdekaan akan selalu tertutup, sehingga masyarakat hanya akan berada di depan pintu gerbang tanpa bisa memasuki dan menikmatinya. Alhasil cita-cita atau tujuan bernegara hanya akan menjadi ilusi khayalan tidak termanifestasi dalam alam kenyataan. 
Bahkan jikalau para petinggi negeri ini terus menerus mencederai amanat konstitusi dan melampui batas nurani Ilahi, maka tidak menutup kemungkinan Tuhan Yang Maha Esa akan segera menggulirkan ruang dan batas waktu kelahiran kepada kematiannya, karena setiap yang lahir pasti ajal, sehingga semboyan “NKRI Harga Mati” bisa saja benar-benar terjadi, tinggal sejarah dan saling membubarkan diri. Dia akan mengganti bangsa ini dengan kelahiran bangsa baru yang lebih setia dan tidak mempersekutukan-Nya. Mari belajar dari bangsa-bangsa besar yang telah bubar manakala tidak mampu mewujudkan harapan atau cita-cita tertinggi dari perjanjian berdirinya suatu negeri. Dirgahayu Indonesia, selamat refleksi dan berproyeksi, menuju kemerdekaan sejati yang paling hakiki.